Flutter: Framework Mobile UI Google

flutter

Sekarang  ini, perkembangan dunia mobile development menjadi salah satu yang paling signifikan peningkatannya. Teknologi mobile telah menjadi aspek yang cukup penting, dimana hampir setiap orang menggunakannya untuk mempermudah berbagai pekerjaan. Bahkan dilansir dari katadata.co.id, pengguna ponsel indonesia mencapai 142% dari populasi. Hal ini menyebabkan banyak teknologi-teknologi yang baru bermunculan. Terutama sistem multiplatform. Sistem multiplatform menjadi primadona karena dapat memangkas biaya produksi untuk menciptakan suatu aplikasi agar berjalan di berbagai ponsel yang berbeda sistem operasinya. Salah satu teknologi multiplatform yang baru dikembangkan adalah Flutter.

Apa itu Flutter?

Flutter adalah framework Mobile UI yang diciptakan oleh google untuk membuat aplikasi mobile yang setara dengan aplikasi native Android maupun iOS. Versi pertama Flutter dikenal sebagai “Sky” dan berjalan pada sistem operasi Android. Diresmikan pada perhelatan Dart developer summit tahun 2015, dengan tujuan untuk mampu merender grafis secara konsisten pada 120 bingkai per detik. Flutter dikembangkan dengan menggunakan bahasa pemrograman Dart. Flutter juga menyediakan kerangka reactive- functional, mesin render 2D, dan widget-widget siap pakai untuk membentuk suatu tampilan utuh aplikasi.

Bagaimana Kinerja Flutter?

Salah satu keunggulan flutter dari pada teknologi multiplatform lainnya seperti react native adalah dalam hal kinerja. Flutter menjanjikan aplikasi yang dibuat akan mendapatkan tingkat sebesar 60 frame per second. Kinerja ini bisa didapatkan karena cara kerja dari flutter sedikit berbeda. Kode-kode yang ditulis dengan menggunakan dart akan diubah menjadi kode C/C++ kemudian dikompilasi secara native. Hal inilah yang menyebabkan flutter memiliki performa yang hampir setara dengan aplikasi native. Flutter bisa berjalan pada sistem operasi android 4.1 atau lebih tinggi dan iOS 8 atau lebih tinggi. Serta dapat dijalankan di peringkat asli maupun simulator.

Widget Flutter

Widget dalam flutter adalah elemen yang sangat penting yang digunakan untuk mengontrol tampilan antarmuka suatu aplikasi. Pada kode tampilan disamping, semua adalah widget, termasuk tata letak. Pusat widget memusatkan anaknya di dalam induknya (misalnya, layar). Widget tata letak Kolom mengatur anak-anaknya (daftar widget) secara vertikal. Kolom berisi widget Teks dan widget Ikon (yang memang memiliki properti, warnanya).

Pada flutter, padding dan margin adalah widget. Tema adalah widget. Dan bahkan aplikasi dan navigasi juga termasuk widget. Ini memungkinkan kemudahan dalam mengatur tampilan antarmuka karean tiap elemen bisa diatur menggunakan widget.

Akses API dan Interoperabilitas

Flutter juga sudah dipaketkan dengan kode pengaksesan platform service yang dimiliki dari android dan juga iOS. Seperti sensor, penyimpanan lokal, dan lain sebagainya. Namun tidak terbatas dalam hal itu, dart juga telah menyediakan banyak plugin-plugin yang mungkin kita butuhkan dan belum ter-include dalam paket flutter.

Keunikan Flutter

Ada begitu banyak kerangka yang bisa digunakan untuk mengembangkan aplikasi lintas platform, seperti React Native, Nativescript, dan Fuse. Namun yang membedakannya adalah, Flutter tidak menggunakan Webview maupun widget bawaan, Flutter punya mesin render sendiri untuk menampilkan widgetnya, hal ini menguntungkan developer yang ingin memiliki tampilan UI unik yang konsisten pada semua perangkat karena tidak bergantung pada widget bawaan OEM.

Lalu apa saja  perbedaan membuat aplikasi android menggunakan Android Studio (native) dengan Flutter?

Perbedaan pertama :
Ada fitur hot reload yang disediakan oleh Flutter. Ini akan membuat kita ngoding android terasa seperti ngoding web. Setiap ada perubahan, kita tidak perlu kompilasi atau build ulang untuk melihat hasilnya. Sedangkan pada Android Studio, kita harus melakukan build APK di setiap kali kita ingin men-debug dan melihat hasil aplikasi pada emulator. Kadang proses ini memakan waktu yang cukup lama, apalagi spek komputer yang digunakan tidak terlalu tinggi.

Perbedaan kedua :
Kemudian perbedaan berikutnya dari bahasa pemrograman yang digunakan. Flutter menggunakan bahasa pemrograman Dart, sedangkan Android Studio menggunakan bahasa pemrograman Java dan Kotlin.

Perbedaan ketiga :
Aplikasi yang kita buat dengan Flutter dapat di-build ke Android dan iOS. Sedangkan Android Studio hanya bisa di-build ke Android saja. Ini untungnya belajar Flutter, sekali coding aplikasi bisa digunakan pada Android dan iOS.

Contoh-contoh aplikasi yang dibangun dengan Flutter :
– Alibaba (Android)
– Google AdWords (Android)
– App Tree (Android)
– Topline (Android)
– Hamilton (Android dan iOS)

Share

Satu tanggapan pada “Flutter: Framework Mobile UI Google

  1. video Balas

    May I simply say what a relief to uncover a person that
    genuinely knows what they are discussing on the net.

    You actually understand how to bring a problem
    to light and make it important. More and more people should
    read this and understand this side of your story.

    I was surprised that you aren’t more popular since you surely have the gift.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 × two =